Archive | Uncategorized RSS feed for this section

Benarkah Benua Atlantis Yang Hilang Itu Ternyata Indonesia ?

22 Nov
QUOTE

MUSIBAH alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?

Plato (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization (2005). Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Konteks Indonesia

Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh.

Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.”

Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.

Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya.

Sumber : Pikiran Rakyat

Advertisements

PHOBIA aku takuuuut…..!!!!!

12 Oct

Kenal orang yang takut nyebrang jalan???

Atau mungkin takut sama kucing???

Atau takut sama petir??? Sama jarum suntik??

Waaaah… kok penakut banget, sich??

Namanya juga manusia, punya rasa takut tuh wajar. Hehehe.. W jg takut ma petir.. Tapi ya jangan terlalu berlebihan dan jadi penakut, dong. Masa sama hal kecil gitu aja takut!!! Eits..jangan salah, Temaaan..ternyata rasa takut tuh nggak hanya sama setan atau penjahat lho.. banyak banget orang yang punya rasa takut tuh gak hanya sama hal-hal kecil. Saking banyaknya, sampai-sampai ketakutan itu dikasih nama juga loh..

Pernah dengar yang namanya “phobia”kan??? Phobia nih berasal dari bahasa yunani lo yabg berarti takut. Istilah ini udah di pake sejak abad 18-an… Udah lama banget ya… Saat ditemukan banyak kasus orang yang punya rasa takut yang berlebihan dan beragam hal yang bisa menyebabkan phobia juga.. maksudnnya.. sama hal-hal yang sebenernya ga nyeremin.

Sekian dulu ya buat tulisanya kali ini..
Jangan lupa baca lanjutannya besok.. ^^

Liburan Mudik Lebaran

5 Oct

Setelah sekian lama telah ditunggu-tunggu dari bulan sebelumnya, akhirnya hari ke3 setelah lebaran pun tiba. Kenapa sangat di tunggu-tunggu karena pada pertemuan keluarga sebelumnya telah di putuskan bahwa kita keluarga besar akan mudik bareng-bareng ke Garut menggunakan 1 bus, dan 3 mobil. Kenapa sangat saya tunggu-tunggu karena selain udah lama ga ke Garut (terakhir kali pas umur 5th) udah lama banget ya…

Apalagi sekarang di Garut tuh udah beda banget sama dulu, mau tau kenapa??? Sekarang tuh di Garut udah ga sedingin dulu, dulu kalo ke Garut mungkin bisa ga tahan sama airnya yang dingin banget kayak air es tapi sekarang udah ga begitu lagi soalnya ada pengambilan gas gitu di sana.

Yah tepatnya 3 hari sesudah lebaran kita sekeluarga berangkat ke Garut, kenapa berangkatnya sesudah lebaran? Soalnya mau menghindari macet arus mudik. Eh, tapi tetep aja kena macet di daerah kawasan Nagrek. Berangkat dari Jakarta sekitar jam 8an nyampe di Samarang jam 2 siang padahal sebenernya ke Garut cuma butuh waktu 4 jam normalnya.

Sesampainya di sana kita sekeluarga beres-beres rumah, soalnya rumahnya ga ada yang ngurus.. hehehe.. yah pokoknya hari pertama buat beres-beres rumah deh.. Terus hari ke2 naru deh kita jalan-jalan ke atas puncak gunung buat mandi air panas.. Pokoknya ga kecewa deh ke sana walaupun jalannya extrim banget berkelok-kelok dan tanjakan yang lumayan tinggi juga..
Setelah itu sorenya w jalan-jalan ke Garut Kotanya deh buat beli oleh-oleh khas Garut pasti udah pada tau dong apa oleh-oleh khas Garutnya??? Yap betul khasnya tuh Dodol Garut sama Kerupuk Kulit.

Dan hari terakhir kita di Garut kita malemnya bikin sate kambing sama sop kambing.. haha pokoknya makan sepuasnya deh.. Tapi sempet ga betah juga sich disana soalnya biasa tidur sendiri di kamar yang nyaman sekarang malah bareng-bareng sama yang laen..

Sekian dulu ceritanya ya… ^^

Hello world!

5 Oct

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!